Yuk Mengenal Dismenore (Dysmenorrhea)

By Tinta Hitam - 21.00



Dismenore (dysmenorrhea) berasal dari bahasa yunani, kata dys yang berarti sulit, nyeri, abnormal, meno yang berarti bulan, dan rrhea yang berarti aliran. Secara singkat dismenore dapat didefinisikan sebagai aliran menstruasi yang sulit atau menstruasi yang mengalami nyeri (Anurogo, 2011). Keluhan nyeri haid dapat terjadi bervariasi mulai dari yang ringan sampai yang berat. Keparahan dismenore berhubungan langsung dengan lama dan jumlah darah haid. Sedangkan menurut Judha (2012), Dismenore dapat didefinisikan sebagai kondisi medis yang terjadi sewaktu haid atau menstruasi yang dapat mengganggu aktivitas dan memerlukan pengobatan yang ditandai dengan nyeri atau rasa sakit di daerah perut maupun panggul.

Dari berbagai pendapat, dapat disimpulkan bahwa dismenore merupakan adanya gangguan fisik pada wanita yang mengalami menstruasi, yang di-karakteristikan dengan adanya nyeri pada saat menstruasi dan nyeri tersebut bisa terjadi sebelum atau selama menstruasi dalam waktu yang singkat. 


Klasifikasi Dismenore

Secara klinis, dismenore dibagi menjadi dua, yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder 

1)   Dismenore Primer

Dismenore primer merupakan proses normal yang dialami ketika menstruasi. Kram menstruasi primer disebabkan oleh kontraksi otot rahim yang sangat intens, yang dimaksudkan untuk melepaskan lapisan dinding rahim yang tidak diperlukan lagi. Dismenore primer disebabkan oleh zat kimia alami yang diproduksi oleh sel-sel lapisan dinding rahim yang disebut prostaglandin. Dismenore primer terjadi sesudah 12 bulan atau lebih pasca menarche (menstruasi yang pertama kali). Hal itu karena siklus menstruasi pada bulan-bulan pertama setelah menarche biasanya bersifat anovulatoir yang tidak disertai nyeri 

2)   Dismenore Sekunder

Dismenore sekunder adalah nyeri menstruasi yang terjadi belakangan dalam kehidupan, umurnnya setelah usia 25 tahun. Hal ini berhubungan dengan abnormalitas panggul seperti adenomiosis endometriosis, penyakit radang panggul, polip endometrium, mioma submukosa atau interstisial (fibroid uterus), atau penggunaan alat kontrasepsi dalam kandungan. Nyeri sering kali dimulai beberapa hari sebelum mens, namun hal ini dapat terjadi pada saat ovulasi dan berlanjut selama hari-hari pertama menstruasi atau dimulai setelah menstruasi terjadi. Berbeda dengan dismenore primer, nyeri pada dismenore sekunder sering kali bersifat tumpul, menjalar dari perut bagian bawal ke arah pinggang atau paha. Wanita sering kali mengalami perasaan membengkak atau rasa penuh dalam panggul 


Etiologi  atau penyebab dari dismenore

1)   Dismenore primer

Dismenore primer adalah proses normal yang dialami ketika menstruasi. Kram menstruasi primer disebabkan oleh kontraksi otot rahim yang sangat intens, yang dimaksudkan untuk melepaskan lapisan dinding rahim yang tidak diperlukan lagi. Dismenore primer disebabkan oleh zat kimia alami yang diproduksi oleh sel-sel lapisan dinding rahim yang disebut prostaglandin. Prostaglandin akan merangsang otot otot halus dinding rahim berkontraksi. Makin tinggi kadar prostaglandin, kontraksi akan makin kuat, sehingga rasa nyeri yang dirasakan juga makin kuat. Biasanya, pada hari pertama menstruasi kadar prostaglandin sangat tinggi. Pada hari kedua dan selanjutnya, lapisan dinding rahim akan mulai terlepas, dan kadar prostaglandin akan menurun. Rasa sakit dan nyeri menstruasi pun akan berkurang seiring dengan makin menurunnya kadar prostaglandin

2)   Dismenore sekunder

Dismenore sekunder umumnya disebabkan oleh kelainan atau gangguan pada sistem reproduksi, misalnya fibroid uterus, radang panggul, endometriosis atau kehamilan ektopik. Dismenore sekunder dapat diatasi hanya dengan mengbati atau menangani penyakit atau kelainan yang menyebabkannya


Tanda dan Gejala Dismenore

Dismenore menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada. Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah

Tanda dan gejala yang mungkin terdapat pada dismenore meliputi rasa nyeri yang tajam, rasa kram pada abdomen bagian bawah yang biasanya menjalar ke bagian punggung, paha, lipat paha, serta vulva. Rasa nyeri ini secara khas dimulai ketika keluar darah menstruasi atau sesaat sebelum keluar darah menstruasi dan mencapai puncak dalam waktu 24 jam. Dismenore dapat pula disertai tanda dan gejala yang memberikan kesan kuat ke arah sindrom premenstruasi, yang meliputi gejala sering kencing (urinary frequency), mual muntah, diare, sakit kepala, lumbagia (nyeri pada punggung), menggigil, kembung (bloating), payudara yang terasa nyeri, depresi, dan iritabilitas.


Faktor Resiko Dismenore

Ada beberapa banyak hal yang menjadi faktor risiko terjadinya dismenore primer dan sekunder. Faktor faktor tersebut antara lain 

1)   Faktor resiko dismenore primer

Berikut adalah beberapa faktor resiko dismenore primer :

a.  Usia saat mentruasi pertama kurang dari 12 tahun

b.  Belum pernah melahirkan anak

c.  Riwayat keluarga dengan keluhan dismenore

d.  Haid memanjang atau dalam waktu yang lama

e.  Merokok

f.   Kegemukan

2)   Faktor resiko dismenore sekunder

Berikut adalah beberapa faktor resiko dismenore sekunder :

a.  Endometriosis

b.  Penyakit radang panggul

c.  Kista ovarium


Patofisiologi Dismenore

1)  Dismenore primer

Kelebihan atau ketidakseimbangan dalam jumlah sekresi prostaglandin (PG) dari endometrium saat menstruasi, prostaglandin F2α (PGF2α) merupakan stimulan miometrium yang kuat dan vasokonstriktor pada endometrium.  Selama peluruhan endometrium, sel-sel endometrium melepaskan PGF2α saat menstruasi dimulai. PGF2α merangsang kontraksi miometrium, iskemia dan sensitisasi ujung saraf. Dismenorea terjadi karena kontraksi uterus yang berkepanjangan dan penurunan aliran darah ke miometrium. Kadar prostaglandin meningkat ditemukan di cairan endometrium wanita dengan dismenorea dan berhubungan lurus dengan derajat nyeri. Peningkatan prostaglandin endometrium sebanyak 3 kali lipat terjadi dari fase folikuler ke fase luteal, dengan peningkatan lebih lanjut yang terjadi selama menstruasi. Peningkatan prostaglandin di endometrium setelah penurunan progesterone pada akhir fase luteal berakibat peningkatan tonus miometrium dan kontraksi uterus yang berlebihan. Leukotrien diketahui dapat meningkatkan sensitivitas serat nyeri di rahim. Sejumlah besar leukotrien telah ditemukan dalam endometrium wanita dengan dismenorea primer yang tidak merespon baik dengan pengobatan antagonis prostaglandin. Hormon hipofisis posterior vasopressin dapat terlibat dalam hipersensitivitas miometrium, berkurangnya aliran darah uterus, dan nyeri pada dismenorea primer. Vasokonstriksi menyebabkan iskemia dan telah diteliti bahwa neuron nyeri tipe C dirangsang oleh metabolit anaerob yang dihasilkan oleh endometrium iskemik dan dapat meningkatkan sensitivitas nyeri. Telah diketahui bahwa dismenorea primer sering berdampingan dengan kondisi sakit lainnya, seperti dispareunia, sindrom iritasi usus dan fibromyalgia

2)  Dismenore sekunder

Prostaglandin yang tinggi juga mungkin memainkan peran dalam patogenesis dismenorea sekunder, tetapi pada dismenorea sekunder harus terdapat patologi panggul. Sejumlah faktor yang terlibat dalam patogenesis dismenorea sekunder, seperti:

a.  Leiomyoma (fibroid)

Leiomyoma adalah tumor jinak otot rahim yang merupakan penyebab umum dari dismenorea. Selain rasa sakit saat menstruasi, pasien mungkin mengalami menorrhagia dan distensi abdomen. Wanita dengan fibroid rahim biasanya memiliki dismenorea tipe spasmodik. Rasa sakit biasanya dimulai dengan pendarahan dan berakhir tiba-tiba dengan akhir pendarahan.

b.  Pelvic Inflammatory disease

PID adalah infeksi pada rahim dan saluran telur, dengan atau tanpa keterlibatan ovarium atau parametrium. PID merupakan infeksi yang berkembang selama atau segera setelah menstruasi; jika kronis barulah dapat menyebabkan dismenorea.

c.  Abses Tubo-ovarium

Abses Tubo-ovarium adalah infeksi terlokalisasi dalam saluran tuba atau indung telur, biasanya terjadi sebagai lanjutan dari PID.

d.  Torsi ovarium

Torsi ovarium merupakan proses terpelintirnya struktur adneksa, yang mengakibatkan iskemia dan akhirnya nekrosis jika proses ini tidak segera ditangani.

e.  Endometriosis

   Adanya jaringan seperti endometrium yang ditemukan di luar rahim, seperti pada ovarium. Wanita sering datang dengan dispareunia, nyeri panggul dan nyeri punggung


Derajat Dismenore

Intensitas nyeri (skala nyeri) adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Derajat nyeri dismenore dibagi menjadi tiga tingkat keparahan yaitu

1)   Dismenore ringan

Seseorang akan mengalami nyeri atau nyeri masih dapat ditolerir karena masih berada pada ambang rangsang, berlangsung beberapa saat dan dapat melanjutkan kerja sehari-hari. Dismenore ringan terdapat pada skala nyeri dengan tingkatan 1-3

2)   Dismenore sedang

Seseorang mulai merespon nyerinya dengan merintih dan menekan-nekan bagian yang nyeri, diperlukan obat penghilang rasa nyeri tanpa perlu meninggalkan kerjanya. Dismenore sedang terdapat pada skala nyeri dengan tingkatan 4-6.

3)   Dismenore berat

Seseorang mengeluh karena adanya rasa terbakar dan ada kemungkinan seseorang tidak mampu lagi melakukan pekerjaan biasa dan perlu istirahat beberapa hari, dan dapat disertai sakit kepala, migran, pingsan, diare, rasa tertekan, mual dan sakit perut. Dismenore berat terdapat pada skala nyeri dengan tingkatan 7-10.


Derajat Pengukuran Nyeri

Intensitas nyeri (skala nyeri) adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Beberapa instrumen pengkajian nyeri yang sering digunakan adalah :

1)   Skala Penilaian Numerik (Numerical Rating Scale / NRS)

NRS lebih digunakan sebagai pengganti atau pendamping VDS. Dalam hal ini klien memberikan penilaian nyeri dengan menggunakan skala 0-10

a.  0 (tidak nyeri) : Tidak nyeri, wajah tersenyum, beraktivitas dengan mudah, tidak menunjukkan area yang nyeri.

b.  1-3 (nyeri ringan) : Terasa kram pada perut bagian bawah, tetapi masih dapat melakukan aktivitas, dapat berkomunikasi dengan baik, dan masih dapat berkonsentrasi.

c.   4-6 (nyeri sedang) : Terasa kram pada perut bagian bawah, wajah menyeringai, mendesis, menyebar ke area pinggang, kurang nafsu makan, sebagian aktifivitas terganggu, sulit konsentasi, memegang area yang nyeri, dan dapat mendeskripsikan nyerinya.

d. 7-9 (nyeri berat terkontrol) : Terasa kram berat pada perut bagian bawah, wajah menyeringai, menangis, nyeri menyebar ke pinggang, paha atau punggung, tidak kuat beraktivitas, terkadang tidak mengikuti perintah tetapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjuk lokasi nyeri, mual, tidak nafsu makan.

e.  10 (nyeri sangat berat/ tidak terkontrol) : Terasa kram yang berat sekali pada perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, kaki dan punggung, sakit kepala, mual, muntah, tidak mau makan, lemas, tidak dapat beraktivitas, tangan mengepal, mengatupkan gigi, menjerit terkadang sampai pingsan, pasien tidak mampu lagi berkomunikasi.



2)   Skala Nyeri Wajah

Skala wajah terdiri atas enam wajah dengan profil kartun yang menggambarkan wajah yang sedang tersenyum (tidak merasa nyeri), kemudian secara bertahap meningkat menjadi wajah kurang bahagia, wajah yang sangat sedih sampai wajah yang ketakutan (nyeri yang sangat) 


Penatalaksanaan

Penatalaksanaan yang dapat dilaksanakan untuk dismenore adalah :

1)  Penjelasan dan nasihat

Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenore adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Penjelasan dapat dilakukan dengan diskusi mengenai pola hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya hal-hal yang dilarang mengenai haid. Nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga dapat membantu mengurangi dismenore.

2)  Pemberian obat analgetik

Banyak beredar obat-obat analgetik yang dapat diberikan sebagai terapi simptomatik. Jika rasa nyeri berat, diperlukan istirahat ditempat tidur dan kompres hangat pada perut bawah untuk mengurangi keluhan. Obat analgetik yang sering diberikan aadalah kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein. Terapi farmakologi untuk mengurangi nyeri menstruasi antara lain: dengan pemberian obat analgetik, terapi hormonal, obat nonsteroid prostagladin, dilatasi kanalis servikalis. Obat-obatan yang digunakan untuk mengurangi nyeri menstruasi diantaranya pereda nyeri (analgesik) golongan Non Steroid Anti Inflamasi (NSAI).

3)  Terapi hormonal

Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud membuktikan bahwa gangguan yang terjadi benar-benar dismenore primer, atau jika diperlukan untuk membantu penderita untuk melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan.

4)  Terapi alternative

Terdapat juga penanganan nonfarmakologi yaitu kompres hangat di dearah yang sakit atau kram, istirahat, olahraga, minum air putih, pemijatan, yoga, teknik relaksasi, dan aromaterapi . Ada beberapa cara pengobatan di bawah ini dapat menghilangkan atau minimal membantu mengurangi rasa nyeri haid yang menggangu. Cara tersebut antara lain  

a.  Aromaterapi

Aromaterapi merupakan suatu metode yang menggunakan aromaterapi untuk meningkatkan kesehatan fisik dan juda mempengaruhi kesehatan emosi seseorang. Aromaterapi merupakan minyak alami yang diambil dari tanaman aromatik. Aromaterapi dapat digunakan sebagai minyak pijat (massage), inhalasi, produk untuk mandi dan parfum

b.  Terapi dingin dan hangat

Kompres dingin merupakan suatu prosedur menempatkan suatu benda dingin pada tubuh bagian luar. Dampak fisiologisnya adalah vasokontriksi pada pembuluh darah, mengurangi rasa nyeri, dan menurunkan aktivitas ujung saraf pada otot. Sedangkan terapi hangat berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah, menstimulasi sirkulasi darah, dan mengurangi kekakuan. Selain itu, terapi hangat juga berfungsi menghilangkan sensasi rasa sakit.

c.  Rileksasi

Dalam kondisi rileks tubuh juga menghentikan produksi hormone adrenalin dan semua hormone yang diperlukan saat kita stress. Karena hormone esterogen dan progesteron serta hormone adrenalin diproduksi dari blok kimiawi yang sama, ketika kita mengurangi stress.

d.  Distraksi

Distraksi adalah pengalihan perhatian dari hal yang menyebabkan nyeri, contoh: menyanyi, berdoa, menceritakan gambar atau foto dengan kertas, mendengar musik dan bermain satu permainan. Teknik distraksi ini khususnya distraksi pendengaran dapat merangsang peningkatan hormon endorpin yang merupakan substansi sejenis morpin yang disuplai oleh tubuh. Individu dengan endorpin banyak, lebih sedikit merassakan nyeri dan individu dengan endorpin sedikit dapat merasakan nyetri lebih besar

e.  Menggunakan imagery

Guided imagery merupakan satu teknik terapi tindakan keperawatan yang dilakukan dengan mengajak pasien berimajinassi membayangkan sesuatu yang indah dan tempat yang disukai atau pengalihan perhatian terhadap nyeri, yang bisa dilakukan dengan posisi duduk atau berbaring dengan mata dipejamkan dan memfokuskan perhatian dan berkonsentrassi. Sehingga tubuh menjadi rileks dan nyaman.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar