Seputar "Kesehatan Reproduksi pada Remaja"
Halo teman-teman semua, kali ini aku mau bahas seputar kesehatan reproduksi khususnya pada remaja. Reproduksi berasal dari kata “re” yang artinya kembali dan “produksi” yang artinya membuat atau menghasilkan, sehingga bisa diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan kembali keturunan. Karena definisi yang terlalu umum tersebut, seringnya reproduksi hanya dianggap sebatas masalah seksual atau hubungan intim. Alhasil, banyak orang tua yang merasa tidak nyaman untuk membicarakan masalah tersebut pada remaja. Padahal, kesehatan reproduksi, khususnya pada remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Oleh karena itu, di sini aku punya beberapa pertanyaan seputar kesehatan reproduksi yang nantinya akan aku bahas. So, langsung aja kita simak beberapa pertanyaan di bawah ini ;)
Pertanyaan 1
Mengapa pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja sangat penting?
Menjaga kesehatan reproduksi adalah hal yang sangat
penting, terutama pada remaja. Sebab, masa remaja adalah waktu terbaik untuk
membangun kebiasaan baik menjaga kebersihan, yang bisa menjadi aset dalam
jangka panjang. Masa remaja merupakan peralihan dari kanak-kanak menjadi
dewasa. Artinya, proses pengenalan dan pengetahuan kesehatan reproduksi
sebenarnya sudah dimulai pada masa ini.
Pada dasarnya, pengetahuan seputar kesehatan reproduksi tidak hanya untuk menjaga kesehatan dan fungsi organ tersebut, tetapi informasi yang benar juga bisa menghindari remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Memiliki pengetahuan yang tepat terhadap proses reproduksi, serta cara menjaga kesehatannya, juga diharapkan mampu membuat remaja lebih bertanggung jawab. Terutama mengenai proses reproduksi, dan dapat berpikir ulang sebelum melakukan hal yang dapat merugikan.
Beberapa pengetahuan dasar yang perlu diketahui remaja yaitu :
1. Pengenalan terhadap sistem, proses, serta fungsi alat reproduksi. Diusahakan
untuk menyampaikan informasi sesuai dengan usia dan kesiapan remaja. Tapi
sebaiknya hindari penggunaan istila-istilah tertentu yang malah bisa
mengaburkan makna dan membuat remaja tidak mengenal dengan pasti masalah
reproduksi.
2. Risiko penyakit. Aspek ini juga sebaiknya sudah mulai dikenalkan dan
disampaikan pada remaja yang sudah beranjak dewasa. Dengan mengetahui risiko
yang mungkin terjadi, remaja tentu akan lebih berhati-hati dan lebih menjaga
kesehatan reproduksi.
3. Kekerasan seksual dan cara menghindarinya. Remaja perlu dikenalkan dengan hak-hak reproduksi yang dia miliki. Selain itu, diperlukan juga pengetahuan tentang kekerasan seksual yang mungkin terjadi, apa saja jenisnya, dan bagaimana cara mencegahnya.
Pertanyaan 2
Apa tujuan dari KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja)?
Tujuan utama
kesehatan reproduksi adalah memberikan pelayanan kesehatan reproduksi kepada
setiap individu secara komprehensif, khususnya kepada remaja agar setiap
individu mampu menjalani proses reproduksinya secara sehat dan bertanggungjawab
serta terbebas dari perlakuan diskriminasi dan kekerasan, termasuk di dalamnya
pengakuan dan penghormatan atas hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual
sebagai bagian integral dari Hak Asasi Manusia.
Tujuan khusus dari
pengembangan sistem pendidikan dan pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi remaja
adalah untuk melindungi remaja dari resiko pernikahan usia dini, kehamilan yang
tidak dikehendaki, aborsi, Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV/AIDS dan
kekerasan seksual.
Secara biologis,
pada remaja alat reproduksi sudah matang yang ditandai pada laki-laki dengan
mengalami mimpi basah dan pada perempuan mengalami menstruasi. Artinya mereka
sudah mampu aktif secara seksual. Pemberian akses pendidikan dan pelayanan
kesehatan reproduksi remaja diharapkan dapat meningkatkan kemandirian remaja
dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya termasuk kehidupan
seksualitasnya.
Pertanyaan
3
Apa
dampak dari kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi remaja?
Kurangnya pengetahuan terhadap hal yang berkaitan dengan reproduksi bisa
memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, diantaranya
1. Perilaku
seks bebas (free sex)
Penyebab dari perilaku seks bebas, salah
satunya terjadi karena tekanan pasangan saat remaja yang sudah mengenal
pacaran, merasa sudah siap melakukan hubungan seks, keinginan dicintai,
keingintahuan tentang seks, pengaruh media massa (tayangan TV dan internet)
yang menampakkan bahwa normal bagi remaja untuk melakukan hubungan seks, serta
paksaan dari orang lain untuk melakukan hubungan seks. Pergaulan seks bebas
berisiko besar mengarah pada terjadinya kehamilan tak diinginkan (KTD).
2. Masalah
kehamilan yang terjadi pada remaja usia sekolah diluar pernikahan
Kehamilan tak diinginkan (KTD) terjadi
karena beberapa faktor seperti faktor sosiodemografik (kemiskinan, seksualitas
aktif, media massa), selain itu karakteristik keluarga yang kurang harmonis
(hubungan antar keluarga), kurang pemikiran tentang masa depan, ingin mencoba-coba,
kebutuhan akan perhatian, serta penggunaan dan penyalahgunaan obat-obatan.
Selain itu kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar tentang proses
terjadinya kehamilan dan metode pencegahannya, serta dapat juga terjadi akibat
tindak pemerkosaan.
Untuk dampak dari kehamilan yang tidak
diinginkan bagi remaja biasanya mendapatkan respon dari dua pihak yaitu :
a. Pihak
sekolah : Respon sekolah yang biasanya berujung dengan dikeluarkannya siswi
tersebut dari sekolah. Remaja menjadi putus sekolah, kehilangan kesempatan
bekerja dan berkarya dengan menjadi orang tua tunggal dan menjalani pernikahan
dini yang tidak terencana.
b. Lingkungan
di mana siswi tersebut tinggal : Cenderung mencemooh dan mengucilkan siswi
tersebut yang berakibat kesulitan beradaptasi secara psikologis, kesulitan
berperan sebagai orang tua seperti tidak bisa mengurus kehamilan dan bayinya
sehingga muncul stress dan konflik yang berakibat melakukan aborsi illegal
sehingga berisiko pada kematian ibu dan bayi.
3. Terjangkitnya penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.
Yang kita ketahui saat ini masih banyaknya remaja yang mengidap HIV/AIDS. Dilihat dari jumlah pengidap dan peningkatan jumlahnya dari waktu ke waktu
Pertanyaan
4
Seberapa
penting peran orang tua dalam kesehatan reproduksi remaja?
Tentunya sangat
penting. Peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan informasi mengenai
kesehatan reproduksi. Kebanyakan orang tua tidak termotivasi memberikan
informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi kepada remaja sebab
mereka takut hal itu justru akan meningkatkan terjadinya hubungan seks
pra-nikah. Isu kesehatan dan kebersihan reproduksi di Indonesia masih dianggap
sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan, baik dalam lingkup publik maupun keluarga.
Hal ini kemudian
mengakibatkan kerentanan bagi remaja terkait kesehatan reproduksi, karena
mereka dapat memperoleh informasi yang salah. Alhasil,
pemahaman yang salah bisa terekam di dalam pikiran mereka. Seharusnya pihak keluarga terdekatlah yang perlu
memberikan edukasi terkait kesehatan dan perawatan organ reproduksi sejak dini.
Edukasi ini meliputi konsep mengenai batasan apa yang boleh dan tidak boleh
disentuh oleh orang lain, serta konsep privasi. Hal ini dapat memberikan
pemahaman pada anak mengenai identitas dirinya serta hubungan dengan lingkungan
sekitarnya. Ketika anak telah beranjak remaja, maka perlu diberikan pengetahuan
lanjutan, khususnya terkait pubertas. Bicara soal pubertas tidak hanya soal
menstruasi. Hal pertama yang perlu diketahui yaitu mengenali diri sendiri
terlebih dahulu seperti mengapa muncul jerawat, mengapa payudara membesar, dan
sebagainya. Sebagai contoh, orangtua perlu mengajarkan pada putrinya untuk
mencatat kebiasaan yang dialaminya saat menstruasi, seperti seberapa lama waktu
berlangsungnya, seberapa tingkatan nyeri yang dirasakan, seberapa banyak darah
yang keluar saat haid, dan sebagainya. Hal ini untuk membiasakan anak mengenali
kondisi normalnya, sehingga anak dapat mengetahui dan menyadari jika terjadi
sesuatu yang tidak normal, dan dapat mengambil tindakan seperti mengunjungi
dokter untuk memeriksakan kondisinya tersebut.
Selain itu,
praktek terkait kebersihan organ reproduksi juga perlu diajarkan kepada anak,
seperti bagaimana caranya membersihkan noda pasca menstruasi dan menjaga
kebersihan vagina saat menstruasi. Orang tua diharapkan menjadi penyedia
informasi terkait kesehatan reproduksi yang benar, mengingat masih banyaknya
mitos yang beredar mengenai kesehatan reproduksi, khususnya menstruasi. Perlu
diketahui, ada larangan mencuci rambut atau mengonsumsi daging ketika
menstruasi. Padahal, keduanya dapat membantu menyegarkan badan serta
menyediakan asupan gizi yang dibutuhkan tubuh agar pulih dari kondisi lemas
akibat menstruasi.
Pertanyaan 5
Bagaimana cara meningkatkan kesadaran remaja tentang kesehatan reproduksi?
Ada 2 cara dalam
meningkatkan kesadaran remaja tentang kesehatan reproduksi, diantaranya
1. Konseling kelompok, sangat efektif untuk memancing keterbukaan
mereka terhadap permasalahan mereka dan selain itu mereka juga dapat berbagi
informasi satu sama lain karena mereka memiliki latar belakang yang hampir sama
dan menumbuhkan perasaan universalitas yaitu perasaan bahwa bukan hanya diri
mereka saja yang memiliki masalah yang berkaitan dengan perilaku berisiko.
2. Psikoedukasi, dimana akan dikemas dalam beberapa bentuk seperti
melaksanakan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) tentang remaja beserta
berbagai permasalahan yang ada, tentang kesehatan reproduksi, tentang kehamilan
pada remaja serta perilaku aborsi, HIV/AIDS, pemberian poster seputar kesehatan
reproduksi, pemutaran film yang berkaitan dengan permasalahan dalam masa remaja
serta kesehatan reproduksi, dan juga dapat dilakukan dengan menjelaskan dan
memberikan gambaran tentang resiko terhadap perilaku IMS. Dengan cara seperti
ini akan menimbulkan kekhawatiran pada mereka akan dampak yang akan mereka
terima apabila mereka tetap melakukan perilaku beresiko, dan diharapkan mereka
dapat lebih berpikir ketika melakukan perilaku beresiko.
Pertanyaan 6
Apa saja hak-hak reproduksi?
Terdapat 12 hak-hak reproduksi yang dirumuskan oleh International Planned
Parenthood Federation (IPPF) pada tahun 1996 yaitu :
1. Hak untuk hidup. Setiap perempuan
mempunyai hak untuk bebas dari risiko kematian karena kehamilan.
2. Hak atas kemerdekaan dan keamanan. Setiap
individu berhak untuk menikmati dan mengatur kehidupan seksual dan
reproduksinya dan tak seorang pun dapat dipaksa untuk hamil, menjalani
sterilisasi dan aborsi.
3. Hak atas kesetaraan dan bebas dari segala
bentuk diskriminasi. Setiap individu mempunyai hak untuk bebas dari segala
bentuk diskriminasi termasuk kehidupan seksual dan reproduksinya.
4. Hak atas kerahasiaan pribadi. Setiap
individu mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seksual dan
reproduksi dengan menghormati kerahasiaan pribadi. Setiap perempuan mempunyai
hak untuk menentukan sendiri pilihan reproduksinya.
5. Hak atas kebebasan berpikir. Setiap
individu bebas dari penafsiran ajaran agama yang sempit, kepercayaan, filosofi
dan tradisi yang membatasi kemerdekaan berpikir tentang pelayanan kesehatan
reproduksi dan seksual.
6. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan. Setiap
individu mempunyai hak atas informasi dan pendidikan yang berkaitan dengan
kesehatan reproduksi dan seksual termasuk jaminan kesehatan dan kesejahteraan
perorangan maupun keluarga.
7. Hak untuk menikah atau tidak menikah serta
membentuk dan merencanakan keluarga
8. Hak untuk memutuskan mempunyai anak atau
tidak dan kapan mempunyai anak
9. Hak atas pelayanan dan perlindungan
kesehatan. Setiap individu mempunyai hak atas informasi, keterjangkauan,
pilihan, keamanan, kerahasiaan, kepercayaan, harga diri, kenyamanan, dan
kesinambungan pelayanan.
- Hak untuk mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu
pengetahuan. Setiap individu mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan
reproduksi dengan teknologi mutakhir yang aman dan dapat diterima.
- Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi
dalam politik. Setiap individu mempunyai hak untuk mendesak pemerintah
agar memprioritaskan kebijakan yang berkaitan dengan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi.
- Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan
buruk. Termasuk hak-hak perlindungan anak dari eksploitasi dan
penganiayaan seksual. Setiap individu mempunyai hak untuk dilindungi dari
pemerkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual.
Dengan mengenal dan memahami hak seksual dan reproduksi, maka kita bisa
melindungi, memperjuangkan dan membela hak seksual dan reproduksi kita dan
orang lain dari berbagai tindak kekerasan dan serangan terhadap hak seksual dan
reproduksi kita.
Pertanyaan 7
Bagaimana cara menjaga kesehatan dan kebersihan reproduksi remaja?
Beberapa tips untuk menjaga kesehatan dan
kebersihan reproduksi remaja, diantaranya :
1. Memakai celana dalam dengan bahan yang
mudah menyerap keringat dan tidak ketat, serta menjaga daerah genetalia tetap
kering untuk menghindari perkembangbiakan bakteri dan
jamur yang menyebabkan bau tidak sedap pada area reproduksi.
2. Pakaian dalam diganti minimal 2 kali dalam
sehari untuk menghindari infeksi dan iritasi
3. Membersihkan organ reproduksi luar dari
arah depan ke belakang agar kuman yang terdapat pada anus tidak masuk ke dalam
organ reproduksi.
4. Membersihkan organ reproduksi menggunakan
air bersih dan keringkan dengan handuk
5. Pakai handuk yang lembut, kering, bersih,
dan tidak berbau atau lembab.
6. Bagi
perempuan, saat sedang menstruasi, dianjurkan untuk rutin mengganti pembalut
setidaknya 4-6 jam sekali. Sebab, pembalut yang tidak diganti dan dipakai dalam
jangka waktu lama bisa memicu ruam, bau tidak sedap, dan meningkatkan risiko infeksi.
7. Bagi laki-laki, dianjurkan untuk dikhitan atau disunat agar mencegah terjadinya penularan penyakit menular seksual serta menurunkan risiko kanker penis.
Pertanyaan 8
Apa bahaya dari pemakaian celana ketat terhadap kesehatan?
Pemakaian
celana ketat yang tidak tepat bisa membahayakan kesehatan, misalnya
meningkatkan risiko sakit punggung, dapat menghambat aktivitas sehari-hari
karena membuat kita kesulitan bergerak, seperti membungkuk, berjalan kaki,
maupun duduk dan memicu infeksi jamur
pada vagina. Sebanyak 75% perempuan pernah mengalami infeksi jamur pada
vagina setidaknya satu kali di dalam hidupnya. Salah satu cara menghindari
kondisi ini adalah menghindari penggunaan celana ketat terlalu sering, agar
bagian kewanitaan tetap kering dan sirkulasi udara tidak terganggu.
Tidak hanya mengancam perempuan,
laki-laki pun tidak lepas dari bahaya celana ketat. Pemakaian celana ketat,
baik celana dalam maupun
celana panjang, dapat menyebabkan area testis menjadi lebih panas. Jika suhu
testis terlalu panas, kondisi ini akan mengganggu testis untuk
menghasilkan sperma dalam
jumlah yang ideal.
Bagi laki-laki maupun perempuan
yang masih senang mengenakan celana ketat, sebaiknya kurangi atau bahkan
hentikan kebiasaan tersebut. Lebih baik gunakan celana yang longgar agar
peredaran darah kita lancar, sehingga bisa leluasa untuk bergerak dan terhindar
dari beragam bahaya celana ketat.
Pertanyaan
9
Apakah
aman membersihkan daerah genetalia dengan daun sirih?
Tidak dianjurkan.
Daun sirih mengandung senyawa yang memang dapat menghambat pertumbuhan bakteri,
namun tidak terlalu direkomendasikan karena akan mengganggu seluruh bakteri,
termasuk bakteri baik yang berfungsi untuk menjaga suasana asam di organ
genetalia untuk tetap berada pada suhu normal.
Sehingga penggunaan rutin dapat menghilangkan pH
alami yang ada di area genetalia.
Oleh karena itu, jika bagian
genetalia tidak sedang mengalami masalah dan dalam kondisi normal alias
seimbang, lebih baik tidak “mengganggu” kondisi yang sudah ada dengan perawatan
yang berlebihan. Salah satunya dengan daun sirih ini. Karena jika membersihkan
Miss V secara berlebihan, dapat mengganggu keseimbangan dan membuat Miss V
menjadi teriritasi.
Pertanyaan 10
Apakah keputihan merupakan kondisi normal?
Yang perlu
kita ketahui yaitu ciri-ciri keputihannya. Perempuan normalnya akan
menghasilkan cairan vagina, berupa cairan bening atau keputihan, tidak
menyebabkan iritasi, dan tidak berbau. Selama siklus menstruasi yang normal,
jumlah dan konsistensi keputihan dapat bervariasi. Semua proses ini dianggap
normal. Kecuali jika keputihan yang ditandai dengan berwarna kuning kehiajaun,
berbau atau mengiritasi. Iritasi tersebut dapat berupa rasa gatal, terbakar,
atau keduanya. Rasa gatal dapat hadir kapan saja, namun sering kali mengganggu
saat malam hari. Oleh karena itu, penting untuk mengonsultasikan perubahan ini
pada dokter. Tips untuk menjaga daerah genetalia, di antaranya
1. Menjaga Kebersihan Daerah Genetalia
a. Kebersihan organ kewanitaan dijaga setiap hari dan dijaga tetap
kering
b. Tidak menggunakan cairan pembersih kewanitaan
c. Membersihkan organ kewanitaan dengan benar yaitu dari arah depan
ke belakang dan tidak dibolak-balik
d. Ganti pembalut saat menstruasi bila sudah terasa basah atau lembab
e. Tidak menggunakan pantyliner, karena pemakaian pantyliner akan
menyebabkan daerah kewanitaan lembab sehingga jamur atau bakteri anaerob akan
semakin subur dan memicu munculnya keputihan
2. Memperhatikan pakaian organ kewanitaan kering dan tidak lembab
a. Tidak menggunakan celana atau pakaian dalam yang terlalu ketat
b. Disarankan penggunaan pakaian dalam dari katun agar menyerap
keringat
c. Bila pakaian dalam terasa lembab, ganti dengan yang kering
3. Mengatur pola hidup sehat
a. Menghindari stress, merokok dan alkohol
b. Konsumsi makanan bergizi dan menjaga berat badan ideal
c. Hindari penggunaan barang-barang pribadi dengan orang lain seperti handuk, pakaian dalam, dll
Semoga bermanfaat :)

0 komentar