Seputar "Kesehatan Reproduksi pada Remaja"

By Tinta Hitam - 02.40

        Halo teman-teman semua, kali ini aku mau bahas seputar kesehatan reproduksi khususnya pada remaja. Reproduksi berasal dari kata “re” yang artinya kembali dan “produksi” yang artinya membuat atau menghasilkan, sehingga bisa diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan kembali keturunan. Karena definisi yang terlalu umum tersebut, seringnya reproduksi hanya dianggap sebatas masalah seksual atau hubungan intim. Alhasil, banyak orang tua yang merasa tidak nyaman untuk membicarakan masalah tersebut pada remaja. Padahal, kesehatan reproduksi, khususnya pada remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Oleh karena itu, di sini aku punya beberapa pertanyaan seputar kesehatan reproduksi yang nantinya akan aku bahas. So, langsung aja kita simak beberapa pertanyaan di bawah ini ;)

Pertanyaan 1

Mengapa pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja sangat penting?

Menjaga kesehatan reproduksi adalah hal yang sangat penting, terutama pada remaja. Sebab, masa remaja adalah waktu terbaik untuk membangun kebiasaan baik menjaga kebersihan, yang bisa menjadi aset dalam jangka panjang. Masa remaja merupakan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Artinya, proses pengenalan dan pengetahuan kesehatan reproduksi sebenarnya sudah dimulai pada masa ini. 

Pada dasarnya, pengetahuan seputar kesehatan reproduksi tidak hanya untuk menjaga kesehatan dan fungsi organ tersebut, tetapi informasi yang benar juga bisa menghindari remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Memiliki pengetahuan yang tepat terhadap proses reproduksi, serta cara menjaga kesehatannya, juga diharapkan mampu membuat remaja lebih bertanggung jawab. Terutama mengenai proses reproduksi, dan dapat berpikir ulang sebelum melakukan hal yang dapat merugikan.

Beberapa pengetahuan dasar yang perlu diketahui remaja yaitu :

1. Pengenalan terhadap sistem, proses, serta fungsi alat reproduksi. Diusahakan untuk menyampaikan informasi sesuai dengan usia dan kesiapan remaja. Tapi sebaiknya hindari penggunaan istila-istilah tertentu yang malah bisa mengaburkan makna dan membuat remaja tidak mengenal dengan pasti masalah reproduksi.

2.  Risiko penyakit. Aspek ini juga sebaiknya sudah mulai dikenalkan dan disampaikan pada remaja yang sudah beranjak dewasa. Dengan mengetahui risiko yang mungkin terjadi, remaja tentu akan lebih berhati-hati dan lebih menjaga kesehatan reproduksi.

3. Kekerasan seksual dan cara menghindarinya. Remaja perlu dikenalkan dengan hak-hak reproduksi yang dia miliki. Selain itu, diperlukan juga pengetahuan tentang kekerasan seksual yang mungkin terjadi, apa saja jenisnya, dan bagaimana cara mencegahnya.


Pertanyaan 2

Apa tujuan dari KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja)?

Tujuan utama kesehatan reproduksi adalah memberikan pelayanan kesehatan reproduksi kepada setiap individu secara komprehensif, khususnya kepada remaja agar setiap individu mampu menjalani proses reproduksinya secara sehat dan bertanggungjawab serta terbebas dari perlakuan diskriminasi dan kekerasan, termasuk di dalamnya pengakuan dan penghormatan atas hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual sebagai bagian integral dari Hak Asasi Manusia.

Tujuan khusus dari pengembangan sistem pendidikan dan pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi remaja adalah untuk melindungi remaja dari resiko pernikahan usia dini, kehamilan yang tidak dikehendaki, aborsi, Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV/AIDS dan kekerasan seksual.

Secara biologis, pada remaja alat reproduksi sudah matang yang ditandai pada laki-laki dengan mengalami mimpi basah dan pada perempuan mengalami menstruasi. Artinya mereka sudah mampu aktif secara seksual. Pemberian akses pendidikan dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja diharapkan dapat meningkatkan kemandirian remaja dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya termasuk kehidupan seksualitasnya.

 

Pertanyaan 3

Apa dampak dari kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi remaja?

Kurangnya pengetahuan terhadap hal yang berkaitan dengan reproduksi bisa memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, diantaranya

1.  Perilaku seks bebas (free sex)

Penyebab dari perilaku seks bebas, salah satunya terjadi karena tekanan pasangan saat remaja yang sudah mengenal pacaran, merasa sudah siap melakukan hubungan seks, keinginan dicintai, keingintahuan tentang seks, pengaruh media massa (tayangan TV dan internet) yang menampakkan bahwa normal bagi remaja untuk melakukan hubungan seks, serta paksaan dari orang lain untuk melakukan hubungan seks. Pergaulan seks bebas berisiko besar mengarah pada terjadinya kehamilan tak diinginkan (KTD).

2.  Masalah kehamilan yang terjadi pada remaja usia sekolah diluar pernikahan

Kehamilan tak diinginkan (KTD) terjadi karena beberapa faktor seperti faktor sosiodemografik (kemiskinan, seksualitas aktif, media massa), selain itu karakteristik keluarga yang kurang harmonis (hubungan antar keluarga), kurang pemikiran tentang masa depan, ingin mencoba-coba, kebutuhan akan perhatian, serta penggunaan dan penyalahgunaan obat-obatan. Selain itu kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar tentang proses terjadinya kehamilan dan metode pencegahannya, serta dapat juga terjadi akibat tindak pemerkosaan.

Untuk dampak dari kehamilan yang tidak diinginkan bagi remaja biasanya mendapatkan respon dari dua pihak yaitu :

a.  Pihak sekolah : Respon sekolah yang biasanya berujung dengan dikeluarkannya siswi tersebut dari sekolah. Remaja menjadi putus sekolah, kehilangan kesempatan bekerja dan berkarya dengan menjadi orang tua tunggal dan menjalani pernikahan dini yang tidak terencana.

b. Lingkungan di mana siswi tersebut tinggal : Cenderung mencemooh dan mengucilkan siswi tersebut yang berakibat kesulitan beradaptasi secara psikologis, kesulitan berperan sebagai orang tua seperti tidak bisa mengurus kehamilan dan bayinya sehingga muncul stress dan konflik yang berakibat melakukan aborsi illegal sehingga berisiko pada kematian ibu dan bayi.

3.      Terjangkitnya penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.

        Yang kita ketahui saat ini masih banyaknya remaja yang mengidap HIV/AIDS. Dilihat dari jumlah         pengidap dan peningkatan jumlahnya dari waktu ke waktu

 

Pertanyaan 4

Seberapa penting peran orang tua dalam kesehatan reproduksi remaja?

Tentunya sangat penting. Peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi. Kebanyakan orang tua tidak termotivasi memberikan informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi kepada remaja sebab mereka takut hal itu justru akan meningkatkan terjadinya hubungan seks pra-nikah. Isu kesehatan dan kebersihan reproduksi di Indonesia masih dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan, baik dalam lingkup publik maupun keluarga.

Hal ini kemudian mengakibatkan kerentanan bagi remaja terkait kesehatan reproduksi, karena mereka dapat memperoleh informasi yang salah. Alhasil, pemahaman yang salah bisa terekam di dalam pikiran mereka. Seharusnya pihak keluarga terdekatlah yang perlu memberikan edukasi terkait kesehatan dan perawatan organ reproduksi sejak dini. Edukasi ini meliputi konsep mengenai batasan apa yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain, serta konsep privasi. Hal ini dapat memberikan pemahaman pada anak mengenai identitas dirinya serta hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Ketika anak telah beranjak remaja, maka perlu diberikan pengetahuan lanjutan, khususnya terkait pubertas. Bicara soal pubertas tidak hanya soal menstruasi. Hal pertama yang perlu diketahui yaitu mengenali diri sendiri terlebih dahulu seperti mengapa muncul jerawat, mengapa payudara membesar, dan sebagainya. Sebagai contoh, orangtua perlu mengajarkan pada putrinya untuk mencatat kebiasaan yang dialaminya saat menstruasi, seperti seberapa lama waktu berlangsungnya, seberapa tingkatan nyeri yang dirasakan, seberapa banyak darah yang keluar saat haid, dan sebagainya. Hal ini untuk membiasakan anak mengenali kondisi normalnya, sehingga anak dapat mengetahui dan menyadari jika terjadi sesuatu yang tidak normal, dan dapat mengambil tindakan seperti mengunjungi dokter untuk memeriksakan kondisinya tersebut.

Selain itu, praktek terkait kebersihan organ reproduksi juga perlu diajarkan kepada anak, seperti bagaimana caranya membersihkan noda pasca menstruasi dan menjaga kebersihan vagina saat menstruasi. Orang tua diharapkan menjadi penyedia informasi terkait kesehatan reproduksi yang benar, mengingat masih banyaknya mitos yang beredar mengenai kesehatan reproduksi, khususnya menstruasi. Perlu diketahui, ada larangan mencuci rambut atau mengonsumsi daging ketika menstruasi. Padahal, keduanya dapat membantu menyegarkan badan serta menyediakan asupan gizi yang dibutuhkan tubuh agar pulih dari kondisi lemas akibat menstruasi.

 

Pertanyaan 5

Bagaimana cara meningkatkan kesadaran remaja tentang kesehatan reproduksi?

Ada 2 cara dalam meningkatkan kesadaran remaja tentang kesehatan reproduksi, diantaranya

1. Konseling kelompok, sangat efektif untuk memancing keterbukaan mereka terhadap permasalahan mereka dan selain itu mereka juga dapat berbagi informasi satu sama lain karena mereka memiliki latar belakang yang hampir sama dan menumbuhkan perasaan universalitas yaitu perasaan bahwa bukan hanya diri mereka saja yang memiliki masalah yang berkaitan dengan perilaku berisiko.

2.  Psikoedukasi, dimana akan dikemas dalam beberapa bentuk seperti melaksanakan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) tentang remaja beserta berbagai permasalahan yang ada, tentang kesehatan reproduksi, tentang kehamilan pada remaja serta perilaku aborsi, HIV/AIDS, pemberian poster seputar kesehatan reproduksi, pemutaran film yang berkaitan dengan permasalahan dalam masa remaja serta kesehatan reproduksi, dan juga dapat dilakukan dengan menjelaskan dan memberikan gambaran tentang resiko terhadap perilaku IMS. Dengan cara seperti ini akan menimbulkan kekhawatiran pada mereka akan dampak yang akan mereka terima apabila mereka tetap melakukan perilaku beresiko, dan diharapkan mereka dapat lebih berpikir ketika melakukan perilaku beresiko.

 

Pertanyaan 6

Apa saja hak-hak reproduksi?

Terdapat 12 hak-hak reproduksi yang dirumuskan oleh International Planned Parenthood Federation (IPPF) pada tahun 1996 yaitu :

1. Hak untuk hidup. Setiap perempuan mempunyai hak untuk bebas dari risiko kematian karena kehamilan.

2. Hak atas kemerdekaan dan keamanan. Setiap individu berhak untuk menikmati dan mengatur kehidupan seksual dan reproduksinya dan tak seorang pun dapat dipaksa untuk hamil, menjalani sterilisasi dan aborsi.

3.  Hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi. Setiap individu mempunyai hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi termasuk kehidupan seksual dan reproduksinya.

4. Hak atas kerahasiaan pribadi. Setiap individu mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi dengan menghormati kerahasiaan pribadi. Setiap perempuan mempunyai hak untuk menentukan sendiri pilihan reproduksinya.

5. Hak atas kebebasan berpikir. Setiap individu bebas dari penafsiran ajaran agama yang sempit, kepercayaan, filosofi dan tradisi yang membatasi kemerdekaan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual.

6. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan. Setiap individu mempunyai hak atas informasi dan pendidikan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksual termasuk jaminan kesehatan dan kesejahteraan perorangan maupun keluarga.

7.  Hak untuk menikah atau tidak menikah serta membentuk dan merencanakan keluarga

8.  Hak untuk memutuskan mempunyai anak atau tidak dan kapan mempunyai anak

9. Hak atas pelayanan dan perlindungan kesehatan. Setiap individu mempunyai hak atas informasi, keterjangkauan, pilihan, keamanan, kerahasiaan, kepercayaan, harga diri, kenyamanan, dan kesinambungan pelayanan.

  1.  Hak untuk mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap individu mempunyai hak   untuk memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi dengan teknologi mutakhir yang aman dan dapat   diterima.
  2.  Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik. Setiap individu mempunyai hak untuk   mendesak pemerintah agar memprioritaskan kebijakan yang berkaitan dengan hak-hak kesehatan   seksual dan reproduksi.
  3.  Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk. Termasuk hak-hak perlindungan anak dari  eksploitasi dan penganiayaan seksual. Setiap individu mempunyai hak untuk dilindungi dari pemerkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual.

Dengan mengenal dan memahami hak seksual dan reproduksi, maka kita bisa melindungi, memperjuangkan dan membela hak seksual dan reproduksi kita dan orang lain dari berbagai tindak kekerasan dan serangan terhadap hak seksual dan reproduksi kita.

 

Pertanyaan 7

Bagaimana cara menjaga kesehatan dan kebersihan reproduksi remaja?

Beberapa tips untuk menjaga kesehatan dan kebersihan reproduksi remaja, diantaranya :

1.  Memakai celana dalam dengan bahan yang mudah menyerap keringat dan tidak ketat, serta menjaga daerah genetalia tetap kering untuk menghindari perkembangbiakan bakteri dan jamur yang menyebabkan bau tidak sedap pada area reproduksi.

2.   Pakaian dalam diganti minimal 2 kali dalam sehari untuk menghindari infeksi dan iritasi

3.  Membersihkan organ reproduksi luar dari arah depan ke belakang agar kuman yang terdapat pada anus tidak masuk ke dalam organ reproduksi.

4.   Membersihkan organ reproduksi menggunakan air bersih dan keringkan dengan handuk

5.   Pakai handuk yang lembut, kering, bersih, dan tidak berbau atau lembab.

6.  Bagi perempuan, saat sedang menstruasi, dianjurkan untuk rutin mengganti pembalut setidaknya 4-6 jam sekali. Sebab, pembalut yang tidak diganti dan dipakai dalam jangka waktu lama bisa memicu ruam, bau tidak sedap, dan meningkatkan risiko infeksi.

7. Bagi laki-laki, dianjurkan untuk dikhitan atau disunat agar mencegah terjadinya penularan penyakit menular seksual serta menurunkan risiko kanker penis.


Pertanyaan 8

Apa bahaya dari pemakaian celana ketat terhadap kesehatan?

Pemakaian celana ketat yang tidak tepat bisa membahayakan kesehatan, misalnya meningkatkan risiko sakit punggung, dapat menghambat aktivitas sehari-hari karena membuat kita kesulitan bergerak, seperti membungkuk, berjalan kaki, maupun duduk dan  memicu infeksi jamur pada vagina. Sebanyak 75% perempuan pernah mengalami infeksi jamur pada vagina setidaknya satu kali di dalam hidupnya. Salah satu cara menghindari kondisi ini adalah menghindari penggunaan celana ketat terlalu sering, agar bagian kewanitaan tetap kering dan sirkulasi udara tidak terganggu.

Tidak hanya mengancam perempuan, laki-laki pun tidak lepas dari bahaya celana ketat. Pemakaian celana ketat, baik celana dalam maupun celana panjang, dapat menyebabkan area testis menjadi lebih panas. Jika suhu testis terlalu panas, kondisi ini akan mengganggu testis untuk menghasilkan sperma dalam jumlah yang ideal.

Bagi laki-laki maupun perempuan yang masih senang mengenakan celana ketat, sebaiknya kurangi atau bahkan hentikan kebiasaan tersebut. Lebih baik gunakan celana yang longgar agar peredaran darah kita lancar, sehingga bisa leluasa untuk bergerak dan terhindar dari beragam bahaya celana ketat.

 

Pertanyaan 9

Apakah aman membersihkan daerah genetalia dengan daun sirih?

Tidak dianjurkan. Daun sirih mengandung senyawa yang memang dapat menghambat pertumbuhan bakteri, namun tidak terlalu direkomendasikan karena akan mengganggu seluruh bakteri, termasuk bakteri baik yang berfungsi untuk menjaga suasana asam di organ genetalia untuk tetap berada pada suhu normal. Sehingga penggunaan rutin dapat menghilangkan pH alami yang ada di area genetalia.

Oleh karena itu, jika bagian genetalia tidak sedang mengalami masalah dan dalam kondisi normal alias seimbang, lebih baik tidak “mengganggu” kondisi yang sudah ada dengan perawatan yang berlebihan. Salah satunya dengan daun sirih ini. Karena jika membersihkan Miss V secara berlebihan, dapat mengganggu keseimbangan dan membuat Miss V menjadi teriritasi.

 

Pertanyaan 10

Apakah keputihan merupakan kondisi normal?

Yang perlu kita ketahui yaitu ciri-ciri keputihannya. Perempuan normalnya akan menghasilkan cairan vagina, berupa cairan bening atau keputihan, tidak menyebabkan iritasi, dan tidak berbau. Selama siklus menstruasi yang normal, jumlah dan konsistensi keputihan dapat bervariasi. Semua proses ini dianggap normal. Kecuali jika keputihan yang ditandai dengan berwarna kuning kehiajaun, berbau atau mengiritasi. Iritasi tersebut dapat berupa rasa gatal, terbakar, atau keduanya. Rasa gatal dapat hadir kapan saja, namun sering kali mengganggu saat malam hari. Oleh karena itu, penting untuk mengonsultasikan perubahan ini pada dokter. Tips untuk menjaga daerah genetalia, di antaranya

1.    Menjaga Kebersihan Daerah Genetalia

a.  Kebersihan organ kewanitaan dijaga setiap hari dan dijaga tetap kering

b.  Tidak menggunakan cairan pembersih kewanitaan

c. Membersihkan organ kewanitaan dengan benar yaitu dari arah depan ke belakang dan tidak dibolak-balik

d.  Ganti pembalut saat menstruasi bila sudah terasa basah atau lembab

e.  Tidak menggunakan pantyliner, karena pemakaian pantyliner akan menyebabkan daerah kewanitaan lembab sehingga jamur atau bakteri anaerob akan semakin subur dan memicu munculnya keputihan

2.    Memperhatikan pakaian organ kewanitaan kering dan tidak lembab

a.  Tidak menggunakan celana atau pakaian dalam yang terlalu ketat

b.  Disarankan penggunaan pakaian dalam dari katun agar menyerap keringat

c.  Bila pakaian dalam terasa lembab, ganti dengan yang kering

3.    Mengatur pola hidup sehat

a.  Menghindari stress, merokok dan alkohol

b.  Konsumsi makanan bergizi dan menjaga berat badan ideal

c.  Hindari penggunaan barang-barang pribadi dengan orang lain seperti handuk, pakaian dalam, dll


Semoga bermanfaat :)

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar