Salah Jurusan?

By Tinta Hitam - 23.55

-Sedikit cerita untuk kalian yang merasa salah jurusan-

Sejak kecil aku sering bertanya pada diriku sendiri "mau jadi apa aku nanti kalau udah besar". Dan aku menemukan keinginanku ketika umur 8 tahun. Pada usia itu aku ingin menjadi dokter. Yap, cita-cita anak pada umumnya. Tetapi, itu tidak bertahan lama. Keinginanku menjadi dokter berhenti ketika bertemu dengan mata pelajaran biologi. Bisa dibilang aku tipe orang yang menyukai hitungan daripada hafalan. Dan mayoritas mata pelajaran biologi adalah hafalan. Akhirnya aku urungkan cita-citaku menjadi dokter.

Saat menginjak kelas 6 SD, tujuan ku hanya ingin masuk SMP favorite. Di situ aku belum tau mau jadi apa, yang terpenting aku bisa masuk SMP favorite. Berkat rasa ambisi ku, akhirnya aku diterima di smp favorite. Disitulah aku mulai percaya dengan 'Ambisi'. Ketika sudah masuk SMP, aku menyukai pelajaran matematika. Rasa suka ku dengan matematika bertambah, ketika aku bergabung dalam math club.

Saat memasuki SMA, aku bertemu dengan mata pelajaran statistika. Di sinilah aku merasa sudah menemukan 'sesuatu yg aku inginkan'. Aku mulai mencari segala hal yang berkaitan dengan statistika, mengikuti berbagai lomba statistika, sampai menemukan sekolah ikatan dinas yang berjurusan sama. Muncul lah rasa ambisi untuk bisa masuk ke sekolah ikatan dinas yang sudah aku incar. Ketika sudah mulai pendaftaraan mahasiswa baru, dibenakku hanya ingin jurusan statistika. Pada snmptn dan sbmptn, aku hanya memilih jurusan statistika dengan universitas yang berbeda. Dan hasilnya nihil. Yap, aku tidak lolos.

Di sisi lain, aku lolos tahap 1 pada seleksi sekolah ikatan dinas di jurusan yang aku inginkan. Dan pada saat itu juga diterima di universitas islam negeri dengan jurusan yang berbeda melalui jalur umptn. Namun belum melakukan daftar ulang karena saat itu hanya menjagakan sekolah ikatan dinas tadi. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, aku terlalu percaya dengan rasa ambisi yang aku punya.

Setelah mengikuti tes selanjutnya, aku dinyatakan lolos tahap ke 2 dari 4 tahap. Tahap ketiga yaitu psikotes. Rasa percaya diri mulai timbul. Saat itu aku semakin yakin bisa diterima.

Di sisi lain aku mulai mencari sekolah lagi. Akhirnya aku menemukan sekolah negeri kedinasan dengan jurusan kesehatan. Sangat 'banting setir' bukan? entah mengapa saat itu aku ingin mencoba mendaftar di jurusan yang tidak sejalan dengan passion ku. Dan setelah tes, alhasil dinyatakan lolos di jurusan kebidanan.

Selang beberapa hari, tibalah pengumuman tahap ke 3 sekolah ikatan dinas. Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku berharap lebih pada pengumuman ini. Namun takdir berkata lain. Ya, aku tidak lolos. Entah, saat itu aku merasakan dunia berhenti dalam waktu sekejap. I can't say anything. Ya, aku sudah tidak tau mau berkata apa lagi, benarbenar seperti orang yang kehilangan arah. Gagal untuk kesekian kalinya dengan jurusan yang sama.

Aku mencoba bangkit dari kegagalan. Melanjutkan ke sekolah kesehatan dengan setengah hati.
Berat memang, karena harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak aku minati. Tapi di sinilah hidupku berubah. Yang dulunya sangat penakut, sekarang menjadi lebih berani karena sering dinas di rumah sakit. Yang dulunya selalu 'jijik' dengan hal yang berbau darah dan sebagainya, sekarang sudah tidak lagi karena sudah terbiasa. Yang dulunya selalu cuek dengan lingkungan sekitar bahkan tidak ramah, sekarang lebih terbiasa untuk peduli dan peka kepada lingkungan sekitar karena kita diajarkan untuk selalu ramah dengan pasien. Dan masih banyak lagi perubahan yang terjadi padaku. Memang aku tidak ingin sekolah di kesehatan, tetapi aku membutuhkannya untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Semua orang pasti menginginkan hidupnya sesuai dengan alur yang dibuat oleh mereka sendiri. Tetapi kita hidup hanya menjalani garis takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Jangan mengeluh jika tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, karena yang kita inginkan belum tentu menjadi sesuatu yang kita butuhkan. Jadi buat kalian yang menimba ilmu di jurusan yang tidak sesuai kata hati, tetaplah bermimpi dengan jalan baru yang telah kalian jalani. Yakinlah bahwa kalian bisa melewati semua itu. Justru kalian adalah orang hebat karena tidak menyerah di tengah jalan dan bisa menghadapi situasi yang sulit.

“Hope is a beautiful thing. It gives us peace and strength, and keeps us going when all seems lost. Accepting what you cannot change doesn’t mean you have given up on hope. It just means you have to focus your hope on more humanly tangible and attainable goals.” — Julie Donner Andersen

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar