Cerita Pendek
By Tinta Hitam - 06.02
Finally, Setelah melembur satu hari satu malam untuk menyelesaikan tugas bahasa indonesia ini. Dan akhirnya, selesai juga cerpennya, hahahhha. Dan ini hasil cerpennya.
Tinta hitam
"Ajeng" itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Aku anak tunggal. Aku tinggal di kompleks perumahan. Aku hanya tinggal bersama ibu, ayahku telah lama pergi menghadap illahi. Hari hariku disibukkan dengan tugas dan ulangan. Aku selalu sibuk dengan urusan duniaku sampai tidak pernah ada waktu dengan ibu. Ibu selalu membuatku marah dan merasa terganggu. Entah mengapa, aku membencinya."Ajeng.... Bangun nak, sholat subuh dulu" kata ibukku yang tiba-tiba membangunkanku. Aku merasa jengkel ketika ibu membangunkanku. Aku berfikir, apa ibu tidak tau keadaan anaknya yang sangat lelah.
"Ah, capek bu" Kataku yang tidak mau menuruti kata kata ibu.
"Ayo, nak dua rakaat dulu" kata ibuku yang semakin memaksa aku untuk segera bangun dari tempat persinggahanku
"Ah, capek bu, kemaren habis nglembur." kataku yang semakin jengkel dengan perkataan ibuku.
"Yaudah, nanti yang nanggung dosanya kamu lo ya."
"Hmm, yaya" kataku acuh.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30, aku tergesa gesa untuk bangun dari tempat tidurku. "Bu, aku kok nggak dibangunin, sekarang udah jam berapa? nggak tau apa aku terlambat sekolah!!!." kataku sambil memarahi ibu.
"Tadi kan ibu udah bangunin kamu."
"Yaudah, yaudah cepet anterin ke sekolah!!." kataku sambil membentak ibu
"Iya, ibu ngambil kunci sepeda motor dulu"
"Cepetann!!." jawabku sambil memarahi ibu.
Sepulang dari sekolah pastinya tak lepas dari pekerjaan sekolahku. Tiba-tiba ibu datang ke kamar.
"Lagi sibuk?" kata ibu dengan nada yang halus.
"Keliatannya gimana?! Udahlah, langsung to the point aja ngomongnya." Kataku sambil membentak ibu.
"Ibu, mau jalan jalan sama kamu, nak. Ibu jarang jalan-jalan sama kamu."
"Bu, tau kan aku lagi ngerjakan tugas? Ngajak siapa gitu, aku lagi sibuk." kataku dengan nada yang kasar.
"Satu kali aja, ibu pingin jalan jalan sama kamu." Jawab ibu sambil memohon ke aku.
"Aduh ibu, Ajeng kan udah bilang kalo nggak bisa, minta ditemenin siapa gitu!"
"yaudah, ibu minta maaf udah nganggu kamu. Ibu keluar dulu, jaga dirimu baik-baik." kata ibu. Aku melanjutkan tugasku dan tidak menghiraukan kepergian ibu.
Sekitar pukul 18.30 ibu belum pulang, aku mulai cemas dengan keadaan ibu. Aku segera menghapus pikiran negatifku. 'mungkin ibu masih jalan jalan' gumamku dalam hati sambil menghilangkan rasa kecemasan terhadap ibu. 1 jam kemudian ibu masih juga belum pulang. Aku mulai mengkhawatirkan keadaan ibu. Aku berusaha untuk mencari ibu yag sedari tadi belum pulang.
Aku mengelilingi seluruh kompleks dan ibu masih saja belum ketemu.
"Aduh, ibu ngerepotin aja sih, tugas numpuk, besok ulangan, kalo ibu belum pulang siapa yang mau nyiapin makanan?" gumamku sambil menendang sesuatu barang yang ada di depanku.
Tiba tiba SMS masuk di handphoneku, kubuka SMS itu dan kubaca isinya : Keluarga anda sedang berada di rumah sakit dalam keadaan kritis". Aku terkejut dengan SMS tadi. Aku segera pergi ke rumah sakit umum dengan keadaan yang tak karuan. Aku masih terkejut, apa benar yang ada di rumah sakit itu ibuku? Ibu yang selama ini selalu aku bentak dan aku marahi?
Setibanya di rumah sakit, aku segera menanyakan kepada dokter yang bertugas di sana. Ternyata itu benar benar ibuku. Ibu yang selama ini telah merawat aku dari kecil. Aku benar benar menyesal. Di saat aku meminta sesuatu pasti ibu selalu menuruti, sedangkan di saat ibu hanya meminta ditemani jalan-jalan, aku selalu sibuk dengan tugas tugasku.
Pukul 21.00 dokter keluar dari ruang ICU, dan dia mengatakan keadaan ibu sudah tak bisa diselamatkan. Tiba tiba sesuatu yang aku pegang jatuh dari tanganku. Aku benar benar tidak percaya. Kenapa ibu pergi secepat ini? Bahkan akupun belum membahagiakannya, aku selalu berbuat durhaka dengannya. Setetes demi setetes air mata ku mengalir. Aku hanya bisa melihat keadaan ibu yang sudah tak berdaya. Aku menyesal tak menuruti perkataan ibu, seandainya ibu masih hidup, aku pasti akan menemani ibu jalan jalan.
Ibu, maafkan anakmu yang belum bisa
sepenuhnya membahagiakanmu, belum bisa membalas seluruh jerih payahmu juga
kasih sayangmu yang telah kau berikan sejak aku dalam kandungan hingga menjadi
seperti sekarang ini. Ibu, aku teringat ketika ibu memanjaku, membelikanku
mainan dan selalu membimbingku dengan kasih sayang. Aku teringat ketika
tangisanku yang selalu membangunkanmu, tapi ibu selalu menghadapiku dengan
sabar.
Aku rindu suara ibu, wajah ibu, dan kasih
sayang ibu. Aku rindu ketika ibu mengagetkanku untuk sholat 5 waktu. Aku rindu
ketika ibu meyiapkan segala kebutuhan untuk sekolahku, tetapi aku membalas
kebaikanmu dengan membentak dan memarahimu. Ibu maafkan aku. Andai saja, waktu
bisa diputar, aku pasti akan menuruti perkataan ibu dan tidak berbuat durhaka
kepadamu. Bahkan di hari terakhirmu, aku belum bisa mengucapkan sepatah kata
maaf untukmu, bu. Aku mencurahkan segala isi hatiku diselembar kertas yang
ditulis dengan tinta hitam, hanya ini yang aku persembahkan untuk ibu, semoga
ibu tenang di alam sana. Amin. Maafkan aku ibu.
SELESAI
Unsur intrinsik
Tema : Penyesalan seorang anak kepada ibunya.
Alur : Alur maju
Tahap alur : Pengenalan masalah, Pertikaian, Puncak masalah (klimaks), Anti Klimaks, Penyeselaian masalah, Selesai
Latar : Latar tempat : Rumah, Kamar, Rumah sakit
Latar waktu : Pagi, Malam
Latar suasana : Tegang, sedih
Sudut pandang : Orang pertama pelaku utama
Tokoh : Ajeng dan Ibu Ajeng
Watak : Ajeng : Durhaka, Pemarah
Ibu : Sabar, Penyayang, Lemah lembut

0 komentar